Dalam ilmu kejawen, masyarakat awam sedikit banyak mengetahui tentang apa itu realitas keberadaan huruf-huruf jawa yang terkenal dengan ha na ca ra ka dan seterusnya. namun, itu hanyalah dipahami masyarakat tempo dulu. di era sekarang yang namanya Ha Na Ca Ra Ka itu hanyalah menjadi pelajaran sekolah tingkat SD dan SMP yang dipehami secara tekstualitas belaka, dan tidak menyuguhkan nilai-nilai Tauhid yang terkandung di dalamnya. barangkali, setiap orang akan berpikiran; apa ada nilai islam dalam huruf-huruf tersebut, apalagi mengandung Ketauhidan?, sangat bertentangan sama sekali. akan tetapi tidaklah demikan. menurut kajian sufistik clasic jawa (dalam hal ini adalah hasil penelaahan seorang mistikus jawa klasic di daerah Mojokerto jawa timur). mengatakan bahwasannya dalam huruf-hurf jawa tersebut sarat ilmu Tauhid, bahkan Tauhid tingkat tinggi, yakni yang membahas tentang kefanaan dan kebaqaan. Berangkat melalaui sebuah penelaahan lewat mimpi seorang ahli hakikat yang berasal dari daerah Mojokerto, jawa timur Kyai Mundzir bin Ilyas (Ki Bodo Mundzir) tepatnya di desa Modongan Sooko Mojokerto. ia mengatakan bahwasannya Tahid berada dalam sekujur tubuh manusia, terutama di lima panca indra (yang menjadi objek utamanya). pertama; perkataan Ha. adalah berarti HIRUNG, yang mengisyaratkan indra penciuman sekaligus alat bernafas manusia, yang menjadi ciri khas proses kehidupan sedang berlangsung melalui pernafasan. ini menandakan adanya sebauah alur kehidupan yang mengalir pada diri mannusia. dan kehidupan ini pada rielnya adalah anugrah dari Allah swt, yang diberikan kepada makhluknya manusia secara cuma-cuma. hakikat kehidupan sendiri bagi manusia adalah tidak ada, namun yang ada kehidupan hanyalah milik Sang Maha Hidup. Allah swt. Aplikasinya, seseorang apabila mengerti akan hal ini, dan merasakan keberadaan Al-Hayyu (sang Maha Hidup) yang termanifestasi dalam dirinya dan alam semesta, maka ia akan menyerahkan diri secara totalitas kepada sang pencipta alam semesta sang pemilik kehidupan yang sesungguhnya. karna ia merasa dirinya sebagai manusia hanya diberi kewenangan hidup untuk memakainya di jalan yang benar dan diridloi-Nya. kehidupan adalah fatamorgana dalam pandangan AlQuran, dan kehidupan hakiki adalah kehidupan dalam bathin yang terus menerus bersanandung dengan Tuhan. dan pada rielnya hanya Tuhanlah sang pemilik kehidupana, yang kemudian dijlentrehkan dalam kehidupan pasca kematian, yakni akhirat. kata Ha juga berarti Hurip/Hirung tempat bernafas yang menandakan hidupnya makhluk dan ketika dicabut pernafsannya maka ia mati. hal ini menunjukkan hakikat kehidupan dari Al-Hayyu (yang Maha Hidup) yang memberikan kehidupan pada seluruh makhluk di alam semesta. kedua; NA. berarti Netra yang bermakan ‘mata’, alias alat yang digunakan untuk memandang atau melihat. dalam hal ini pada hakikatnya mata manusia hanyalah berupa instrumens atau sekedar cendela yang membuka penglihatan dalam pikiran untuk melihat dunia luar. secara lebih menukik pada ilmu Tauhid, mata yang berart penglihatan manusia, pada rielnya adalah manifestasi dari Al-BASHIR milik Allah swt Yang Maha Melihat. mannusia cuma dikasih sedikit dari esensi penglihatan Allah swt.
0


