PENGARUH APLIKASI KURIKULUM BERBASIS PESANTREN TERHADA PEMBINAAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS X DI MA DARUL HIKMAH KEDUNGMALING SOOKO MOJOKERTO 2008-2009

Posted: Juni 11, 2009 in Uncategorized

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Anak didik (siswa) merupakan pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang. Sepanjang hidupannya Pertumbuhan dan perkembangan ini bersifat jasmani dan kejiwaan yang melalui proses secara tertatur dan terarah, yaitu ke arah kemajuan dan bukan kemunduran. Tiap tahap pertumbuahan dan perkembangan ini ditandai dengan meningkatnya kemampuan dan cara-cara baru yang dimiliki. Pertumbuhan dan perkembangan (kepribadian) ini merupakan peralihan tingkah laku atau fungsi kejiwaan dari yang lebih rendah ke pada tingkat yang lebih tinggi, yang nantinya perubahan-perubahan (yang bersifat fisik dan kejiwaan) ini dimaksudkan agar anak didik dalam lingkungannya (baik fisik maupun sosial) dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya dengan baik.
Guna menyikapi hal ini, pendidikan dipandang memiliki tugas yang amat penting dalam memberikan bimbingan, agar pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung secara wajar dan optimal. Hal ini dikarnakan pendidikan melihat tiap-tiap anak didik memiliki sifat dan kerpribadian yang unik dan berbeda satu sama lain, dan menjadikan ciri khas tersendiri (potret) dalam kehidupannya.
Keunikan sifat kepribadian ini terlihat dalam tiga factor penting, yakni keturunan, lingkungan dan diri pribadi (self). Disini terlihat bahwasannya faktor keturunan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk kepribadian anak, karna si anak mendapat asupan setengah dari sifat ayah dan setengahnya lagi dari ibu. Begitu pula factor lingkungan, ia memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk kepribadian seoarang anak didik, dikarnakan lingkungan di mana tempat tinggal ia hidup juga memberikan kontribusi yang memadai, seperti berkumpul dengan orang-orang terhormat, teman-teman yang baik serta lingkungn pergaulan social yang memilki nilai positif.
Terakhir, faktor penting yang sering diabaikan dalam memahami prinsip pertumbuhan dan perkembngan anak didik, serta berperan dalam membentuk kepribadian anak yaitu faktor self, atau kehidupan kejiwaan si anak. Factor self mencakup perasaan, anggapan, pikiran, pandangan, penilaian, keyakinan, sikap, dan usaha seseorang yang amat berpengaruh dalam membuat keputusan dalam tindakan sehari-hari. Apabila dapat dipahami self seseorang maka dapat dipahami pula pola kehidupannya. Oleh sebab itu, factor self (pribadi) adalah yang menjadi garapan utama pendidikan dalam membentuk pribadi anak yang ideal sesuai dengan fitrah kehidupannya, yaitu manusia yang paripurna. Maka hal inilah yang akan menjadi topik pembahasan penulisan skripsi ini, dimana faktor pendidikan, terutama pendidikan agama, manjadi factor terpenting dalam membentuk kepribadian anak didik (siswa). Dalam al-Quran pun dijelaskan bahwasaannya Allah swt., tidak akan merubah nasib suatu kaum –termasuk pribadi seseorang-, kecuali jika ia mau merubah keadaan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana yang dijelasakan dalam Q.S Ar-ra’du : 11 berikut :
إنَّ الله لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّى يُغَيِّرُ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat diatas mengungkapkan dengan jelas, bahwasannya faktor self atau pribadilah yang menjadi faktor utama untuk membentuk pribadi yang perfect (sempurna). Bukan hanya faktor keturunan atau lingkungan saja, karna ia hanya merupakan fasilitas yang mewadahi atas perkembangan dan pertumbuhan kejiwaan pribadi seseorang.
M. Quraisyihab dalam tafsir Al-Misbahnya menafsirakan ayat ini sebagai bentuk perubahan yang didasarkan pada pola pemikiran yang berbeda dalam wacana untuk merubah keadaan. Ia mengatakan mengenai ayat yang berbunyi (artinya) “Sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” yang dimaksud adalah sikap mental dan pikiran mereka sendiri.
Sikap dan mental ini yang akhirnya menghendaki seseorang untuk merubah sikapnya terlebih dahulu, dan ketika itu jika Allah swt menghendakinya maka akan berlakulah ketentuannya yang berdasarkan pada sunnatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkannya, dan bila itu terjadi maka tak ada yang dapat menolaknya.
Penjelasan ini menerangkan bahwasannya, peran pribadi amat membantu dalam perkembangan terutama menyangkut aspek pemikiran dan mental yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral agama, yang akhirnya dapat membuahkan sikap dan mental yang bagus dalam wujud kepribadiannya dalam masyarakat.
Pengertian nasib dalam ayat diatas memiliki banyak arti, seperti nasib perekonomian, kesehatan, pendidikan, termasuk pula nasib kepribadiannya yang tak luput dari mengusahakannya menuju perkembangan yang lebih baik. Dan hal ini, menjadi garapan utama dalam berbagai lembaga pendidikan –yang intinya- untuk mencetak kader-kader manusia yang memiliki SDM tinggi (baik IPTEK maupun IMTAQ), dan siap diterjunkan dalam kehidupan riel yang terus berkembang menuju dunia yang lebih modern.
Akan tetapi, melihat fenomena kekinian, sangat disayangkan bahwasannya lembaga pendidikan yang selama ini dianggap sebagai wadah penggemblengan anak didik membentuk manusia-manusia yang beradab dan bermoral mulia, baik dengan Sang Pencipta maupun sesama makhluk, lambat laun semakin merosot peranannya. Terlihat amat jelas, dengan ditandainya beberapa puluh anak yang baru lulus sekolah dengan mengadakan konvoi-konvoi di jalanan, berhura-hura dan berpesta pora serta melakukan hal-hal negatif lain yang intinya jauh dari nilai-nilai moral agama dan susila. Selain itu, juga banyaknya prosentase nilai kriminal pelajar yang semakin menjalar. Hal ini menunjukkan bahwasannya system pendidikan telah merosot peranannya. Yang semula, seharusnya membentuk anak didik bermoral dan berpengetahuan serta berkualitas tinggi, namun setelah beberapa dekade ini pendidikan –khususnya lembaga formal- tak dapat lagi menjalankan fungsi utamanya. Banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi di mana-mana dengan mengatas namakan sekolah, seperti tawuran antar sekolah, terlibat minuman keras, narkoba, free sex dan lain sebagainya. Melihat kenyataan seperti ini, pendidikan formal telah dinilai gagal dalam menjalankan tugasnya.
Namun disisi lain, tidaklah semua lembaga pendidikan akhir-akhir ini gagal dalam menjalankan tugas pentingnya. Akan tetapi, masih terdapat suatu lembaga pendidikan yang selama ini masih eksis ditengah-tengah masyarakat yang dianggap masih dapat mencetak kader-kader manusia unggulan memiliki daya SDM tinggi. Lembaga tersebut ialah pesantren. Dimana peran pesantren tetap survive dan mampu beradapatasi dengan modernitas pendidikan. Bahkan ketika pendidikan formal atau sekuler dinilai gagal dalam membentuk kepribadian. Dalam masalah ini, peasantren ditunjuk sebagai lembaga pendidikan alternative.
Tatanan pendidikan semacam ini, pesantren dinilai sukes. Ada kecenderungan dari orang tua di kota-kota besar yang tidak mampu lagi mengendalikan dan mengarahkan anak-anaknya dari kenakalan remaja, maka pilihan terbaik baginya adalah mengirimkan anak-anaknya ke pesantren, kendatipun di pesantren mereka belum tentu juga mengalami kesadaran sepenuhnya. Namun secara umum, pesantren masih diyakini potensial mendidik, membimbing dan membangun kepribadian anak didiknya (santri) menjadi orang muslim yang benar-benar shaleh dan shalihah, yang memiliki ketahanan cukup kuat dalam menghadapi tuntutan dunia global.
Pesantren sebagai lembaga dakwah yang mengiringi dakwah islamiah di Indonesia memiliki persepsi yang plural. Pesantren bisa dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga dakwah dan yang paling populer adalah sebagai lembaga pendidikan (institute) islam yang mengalami konjungtur dan romantika kehidupan menghadapi berbagai tantangan yang berbau intertnal dan eksternal.
Pesantren merupakan sistem pendidikan yang tumbuh dan lahir dari kultur Indonesia yang bersifat asli atau budaya murni Indonesia (indigenous). Lembaga ini-lah yang akhirnya dilirik kembali –oleh para pakar pendidikan- sebagai model dasar pengembangan konsep pendidikan baru di Indonesia. Meskipun tidak ada pengakuan secara eksplisit dari pakar pendidikan. Akan tetapi karakter budaya pesantren telah diadopsi kedalam system pendidikan formal. Sampai saat ini terbukti dengan munculnya sekolah-sekolah unggul (boarding school) sejak tiga dasawarsa terakhir, yang tujuan utamanya ialah membentuk pribadi anak didik yang tidak hanya memilki pengetahuan umum saja, melainkan juga memiliki ketrampilan dalam memahami dan menjalankan nilai-nilai ajaran agama islam dengan baik dan benar. Yang nantinya bermunculan kader-kader generasi anak bangsa yang memiliki kemampuan IPTEK dan IMTAQ secara sekaligus, yang siap mengarungi tantangan kehidupan yang kian semakin maju.
Model semacam ini, menurut penulis, disebut model gabungan kurikulum yang barbasis nasional dengan klasik (ala pesantren) yang mengalami proses perkembangan dalam pendidikan, khususnya dalam membina kepribadian anak didik. Selain itu, menjadi gagasan utama oleh beberapa lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan (yayasan) pondok peasantren, seperti yang terdapat di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto (yang akan menjadi kajian objek penelitian penulis). Dalam lembaga tersebut disamping melaksankan berbagai kurikulum nasional juga mengedepankan kurikulum berbasis pesantren, yang idealnya memakai mata pelajaran khas ala di pesantren seperti penggunaan literatur kitab kuning/ kitab klasik karya ulama’ terdahulu yang diyakini –dalam dunia pesantren- dapat membuahkan keberkahan bagi siapa saja yang mempelajarinya, lebih-lebih untuk membentuk kepribadian yang perfect dan diridhai oleh Allah swt. Akan tetapi, bedanya Cuma pada metode penyampaiannya saja yang sedikit berbeda dengan murni yang ada di pesanteren seperti sorogan dan bandongan. Di madrasah ini mengedapankan metode-metode yang sedang berkembang di dunia pendidikan, memang masih ada satu atau dua guru yang menggunakan metode klasikal ala pesantren namun itu jarang dipraktekkan.
Berdasarkan realita tersebut, penulis berinspirasi untuk meneliti yang akan dituangkan dalam bentuk karya ilmiah bentuk skripsi dengan judul : “Pengaruh Aplikasi Kurikulum Berbasis Pesantren Terhadap Pembinaan Kepribadian Siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto. Yang nantinya bisa membantu dalam memberikan wawasan lebih jauh mengenai wacana system pendidikan yang sedang berkembang.

B. PENEGASAN JUDUL
Skripsi ini berjudul “Pengaruh Aplikasi Kurikulum Berbasis Pesantren Terhadap Pembinaan Kepribadian Siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto”. Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas dan agar tidak salah pemahaman, maka penulis memberikan ulasan pengertian mengenai beberapa arti dari istilah-istilah yang dianggap penting dan masih bersifat umum.
Dalam judul, istilah-istilah yang dianggap penting ialah:
1) Pengaruh : daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang berkuasa atau yang memiliki kekuatan.
2) Aplikasai : pengetrapan, pengamalan, pelaksanaan
3) Kurikulum : rencana pelajaran. Atau menurut istilah ialah : seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu seperti pengalaman pendidikan yang berupa kebudayaan, olah raga, social, dan kesenian, baik yang ada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola oleh sekolah.
4) Pesantren : tempat para santri bermukim. Sedangkan menurut istilah ialah lembaga tradisional yang dalam bacaan teknis menjadi suatu tempat yang dihuni oleh para santri yang sedang mencari ilmu
5) Pembinaan ; ialah berasal dari suku kata “bina” yang berarti membangun, mengusahakan agar lebih baik
6) Kepribadian ; berasal dari kata “pribadi” yang mendapat awalan ke dan akhiran kan, yang berarti diri sendiri/ perseorangan. Atau menurut istilah ialah; organisasi dinamika dalam diri seorang individu sebagai sistem yang menentukan dengan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
7) Siswa ; pelajar dalam akademik. Secara istilah adalah sebagaimana yang disinggung oleh Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam yaitu makhluk yang sedang berproses menuju perkembangan dan pertumbuhan menuju fitrahnya masing-masing. Dan mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan yang dimiliki fitrahnya.
Berdasarakan penegasan judul pada istilah-istilah di atas, maka yang dimaksud dengan judul “Pengaruh Aplikasi Kurikulum Berbasis Pesantren Terhadap Pembinaan Kepribadian Siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto” adalah bagaimana penerapan kurikulum berbasis pesantren bisa mempengaruhi tingkat perkembangan kepribadian siswa kelas X di MA darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto.

C. RUMUSAN MASALAH

Dalam pembahasan ini, dan berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1) Bagaimana aplikasi kurikulum berbasis pesantren siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto
2) Bagaimana pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto
3) Seberapa besar pengaruh aplikasi kurikulum berbasis pesantren terhadap pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto

B. TUJUAN PENELITIAN

Pada penelitian ini, penulis memiliki tujuan sebagai berikut;
1) Untuk mengetahui aplikasi kurikulum berbasis pesantren siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto
2) Untuk mengetahui pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto
3) Untuk mengetahui besarnya pengaruh aplikasi kurikulum berbasis pesantren terhadap pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojoerto
E. MANFAAT PENELITIAN
Setelah mengadakan kegiatan penelitian sampai dengan disusunnya penelitian ini, maka penulis berharap hasil penelitian ini berguna bagi:
1) Penulis pribadi.
Penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi penulis dalam melaksanakan penelitian, dan diharapakan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan penulis dalam menganalisa suatu permasalahan terutama masalah-masalah yang terkait dalam dunia pendidikan.

2) Bagi lembaga pendidikan.
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan input dan inforamasi penting bagi lembaga pendidikan pada umumnya, khususnya MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto. Sehingga bisa menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan di kemudian hari. Selain itu, juga diharapkan bisa membantu para anak didik yang ada di madrasah ini untuk mengerti, memahami dan menyadari akan pentingnya mengamalkan nilai-nilai ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.

3) Bagi ilmu pengetahuan.
Penelitian ini merupakan kontribusi kecil dalam pengkajian kependidikan, semoga bisa menjadi tambahan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin modern.

F. METODE PEMBAHASAN
Dalam metode pembahasan ini, terdapat dua masalah yang penting untuk dijadikan sebagai pedoman dalam penelitian. Yaitu masalah yang berkaitan dengan metode penyimpulan induksi dan metode penyimpulan secara deduksi.
1) Metode Induksi
Metode Induksi adalah suatu proses tertentu, dimana dalam proses itu akal budi menyimpulkan pengetahuan /keadaan, fakta yang umum atau universal dari pengetahuan /fakta, kerjadian yang sifatnya khusus atau particular. Dengan induksi kita mengangkat barang atau sesuatu yang individual tertentu ke tingkat yang lebih luas cakupannya atau universal. Misalnya, kita memperoleh pengetahuan yang umum tentang sesuatu barang, hal, dan kejadian yang konkret tentang kejadian secara individual. Hal ini terjadi dengan abstraksi. Yakni dengan membiarkan sifat-sifat yang konkret kita menentukan inti dan hakikat sesuatu. Inilah dasar induksi sebagaimana digunakan dalam ilmu pengetahuan
Dalam sebuah analisa penelitian dengan menggunakan penyimpulan induksi ini, adalah bertujuan untuk mengambil beberapa kesimpulan dari beberapa objek. Contoh; Jika hasil penelitian dari suatu populasi X (ular), populasi Y (tikus), Populasi Z (jangkrik). Merusak tanaman budi daya maka X, Y, dan Z dapat ditarik pada kesimpulan yang lebih luas yaitu ‘hama’.

2. Metode Deduksi
Penyimpulan deduksi merupakan penyimpulan kebalikan dari penyimpulan secara induksi. Yakni; penyimpulan pengetahuan dari yang sifatnya khusus ke yang lebih umum. Dalam hal ini, pengetahuan yang sifatnya khusus (particular) pada hakikatnya termuat secara implisit dalam pengetahuan yang sifatnya lebih umum (universal).
Dalam penyimpulan secara Deduksi, terdapat aturan-aturan tertentu yang disebut “orde deduktif”. Yakni salah satu jenis berpikir deduktif yang sangat terkenal dalam ilmu manthiq disebut sebagai silogisme. Berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum yang hendak dinilai dengan pembahasan secara khusus.
Kaitannya dengan pembahasan ini adalah untuk mengantisipasi data-data yang sifatnya teoritis dan data yang sifatnya umum, maka akan dikeluarkan kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya khusus. Dan dalam hal ini, penulis menggunakan keduanya sebagai teknik dalam penelitian.

3. Penentuan Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang berupa manusia, gejala-gejala pola sikap, tingkah laku, dan sebagainya yang menjadi obyek penelitian. Jadi, populasi adalah keseluruhan unit yang menjadi objek penelitian atau kelompok yang diharapkan dapat digunakan dalam penelitian. Namun, populasi dalam penelitian ini hanyalah siswa kelas X MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto.
Mengingat banyaknya populasi kelas X yaitu 186 siswa maka peneliti mengambil sebagian dari jumlah populasi untuk dijadikan sampel sebagai data, dan data yang terkumpul akan dianalisis. Dari jumlah populasi yang telah dipilih sebagai sumber data tersebut disebut sampel atau cuplikan penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi yang nyata diteliti, dan sample mewakili populasi . Dan dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebanyak 65 siswa.
Untuk menentukan sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan Random sampling (teknik acak) karena semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk menjadi sample, dan Purposive sampling (memilih sampel dengan dasar bertujuan) sebagai pelengkapnya karena untuk menentukan seseorang menjadi sampel atau tidaknya didasarkan pada tujuan penelitian.

4. Pengumpulan Data
Data merupakan hal yang paling penting dalam sebuah penelitian, banyak sekali teknik untuk mengumpulkan data, ada Observasi, Wawancara (Interview), Angket, dan Dokumentasi. Adapun metode pembahasan yang digunakan dalam penelitian yang berjudul “Aplikasi kurikulum bebrbasis pesantren terhadap pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto” adalah metode Angket, Dokumentasi. Observasi dan Interview sebagai pelengkap atau metode pendukung dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data ini akan dijelasakan dalam bab III Metode Pembahasan.

G. HIPOTESIS
Hipotesis adalah jawaban yang masih bersifat sementara dan bersifat teoritis. Dalam metode penelitian, hipotesis merupakan alat yang mempunyai kekuatan dalam proses inkuiri. Karna hipotesis dapat menghubungkan dari teori yang relevan dengan kenyataan yang ada atau fakta, atau dari kenyataan dengan teori yang relevan.
Hipotesis dikatakan jawaban sementara karna kebenarannya masih perlu diuji atau dites dengan data yang asalnya dari lapangan. Hipotesis ini penting peranannya karna dapat menunujukkan harapan bagi peneliti yang direfleksikan dalam hubungan ubahan atau variabel dalam permasalan penelitian. Dan dalam hal ini, hipotesis yang penulis ajukan adalah hipotesis nihil (Ho) dan hipotesis kerja (Ha).
Hipotesis kerja (Ha). Hipotesis ini merupakan penggambaran terhadap ide yang ada dalam pikiran yang dikembangkan dari hasil kajian teoritis dan biasanya dijadikan pendamping dari hipotesis nihil oleh si peneliti. Yakni apabila dari hipotesis nihil gagal atau ditolak maka, hipotesis yang kedua ini secara otomatis akan diterima atau tidak ditolak. Dengan kata lain, hipotesis ini ada hubungan atau pengaruh antara variable interes peneliti, dan jika dihubungkan dengan penelitian diatas maka, hipotesis kerjanya berbunyi :
“Ada pengaruh yang signifikan antara aplikasi kurikulum berbasis pesantren terhadap pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto”.
Hipotesis nihil (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan atau tidak ada hubungan atau pengaruh antara variable interes peneliti. Inti dari hipotesis ini adalah sebuah pernyataan teoritis yang masih perlu diuji. Dan apabila dihubungkan dengan penelitian di atas, maka hipotesis nihilnya berbunyi :
“Tidak ada pengaruh aplikasi kurikulum berbasis pesantren terhadap pembinaan kepribadian siswa kelas X di MA Darul Hikmah Kedungmaling Sooko Mojokerto”.

D. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mempermudah pembahasan masalah dalam penelitian ini, penulis membagi dalam baberapa bab, dan beberapa sub bab yang terdapat pada setiap babnya. Untuk lebih jelasnya, sistematika dalam pembahasan dalam skripsi ini sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah , pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis, metode pengumpulan data, dan yang terakhir adalah sistematika pembahasan.

Bab II : Landasan Teori,
Merupakan kajian secara teoritis yang terdiri dari tiga sub bab. Sub bab pertama berisi tentang aplikasi kurikulum berbasis pesantren yang terdiri dari poin-poin sebagai berikut: pengertian pesantren dan sejarahnya, peranan pesantren, kurikulum pesantren, dan aplikasi kurikulum pesantren dalam lembaga sekolah.
Pada sub bab yang kedua berisi Pembinaan Kepribadian yang terdiri atas poin-poin sebagai berikut; pengertian kepribadian, pembinaan kepribadian, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, dan pembinaan menuju pribadi yang sempurna.
Pada sub bab ketiga membahas mengenai Aplikasi kurikulum berbasis pesantren pengaruhnya terhadap pembinaan kepribadian siswa.
Bab III : Metodologi penelitian
Bab ini merupakan bagian yang menjelaskan langkah-langkah dan metode yang digunakan dalam melakukan penelitan dari awal hingga akhir. Bab ini berisikan jenis penelitian, penentuan obyek penelitian, metode/ instrument penelitian, dan analis data.

Bab IV : Laporan Hasil Penelitian
Laporan hasil penelitan memaparkan hasil penelitian, berupa data-data penelitian yeng menyangkut gambaran umum obyek penelitian, dan penyajian data hasil angket yang kemudian diolah dengan teknik analisis data.

Bab V : Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan hasil dari penelitian dan saran-saran dari peneliti serta daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung dalam menjelaskan persoalan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s